Berita dan event

Usaha Arang Tempurung dan Pemanfaatan Tungku Hemat Energi

Usaha arang tempurung di Batu Ampar, Kbupaten Kubu Raya sudah berlangsung sejak satu dekade terakhir. Pada awalnya tempurung kelapa oleh masyarakat masih menjadi limbah atau bahan sisa dari pengolahan kopra. Pada proses pengolahan kopra tidak semua tempurung kelapa digunakan sebagai bahan bakar untuk pemasakannya. Sisa tempurung yang tidak terpakai ini hanya dibiarkan menumpuk memakan tempat.

Berita dan Event

Monster Penjaga Pantai

Ketika bermukim di jakarta 5 tahun lalu, frank momberg pusing bukan kepalang. maklum, lalulintas selalu macet di depan rumah dan kantornya di Jakarta Selatan. Polusi udara dan sampah berserakan. gambaran itu berbeda dengan kehidupannya selama 10 tahun di pedalaman Kalimantan dan Papua.

"dari pada ngomel dan memaki-maki, mending buat sesuatu buat lingkungan," kata momberg, direktur Asia Pasifik Flora dan Fauna International. Lembaganya kemudian membenahi Suaka Margasatwa Muara Angke di Kelurahan Kapuk Muara, Kecamatan Penjaringan, Jakarta Utara. kini pelajar dan masyarakat umum dapat menjelajahi kawasan ini untuk melihat burung langka, kera, ular, biawak, dan satwa lainnya

.

Sejak 1989 pemerintah Belanda memang menetapkan kawasan hutan mangrove seluas 25,02 ha ini sebagai Cagar Alam. selain Suaka Margasatwa, terdapat Taman Wisata Alam Angke Kapuk seluas 99,82 ha. kawasan yang berdampingan dengan Pantai Indah Kapuk ini hanya dibatasi kali Angke dengan pemukiman nelayan Muara Angke. meskipun lahannya sempit, Suaka Margasatwa Muara Angke memiliki peranan penting. Birdlife International salah satu organisasi pelestarian burung memasukan kawasan ini sebagai daerah penting bagi burung di pulau Jawa. turis asing emnjadikan kawasan ini sebagai lokasi untuk birdwatching-mengamati burung bubut Jawa dan burung lainnya.

Memang, kurun waktu Oktober - April, tambak - tambak yang ada di kawasan ini menjadi tempat singgah burung - burung pantaimigran yang sedang mengembara dari Eropa dan Amerika Utara ke Australia. burung ini bermigrasi menghindari perubahan kondisi alam yang ekstrim atau musim dingin di belahan bumi utara. selain mengamati burung, kawasan ini dijadikan laboratorium alam mengenai mangrove bagi pelajar. jenis mangrove disini antara lain akar dan buah bakau, akar dan buah api-api, bunga dan akar pidada, serta pohon dan buah nipah. menurut momberg, Hongkong dan Singapura memiliki hutan lahan basah di pesisir yang terawat dengan baik."Muara Angke bisa menjadi kawasan sejenis di Jakarta," katanya. selain pemerintah, ia berharap dunia usaha dan masyarakat ikut menjaga kawasan ini. memang, sejak 2 tahun lalu, warga yang tergabung dalam Jakarta Green Monster ikut mengelola Suaka Margasatwa Muara Angke.

1. Usaha Arang Tempurung dan Pemanfaatan Tungku Hemat Energi (24/5/2008)

Usaha arang tempurung di Batu Ampar, Kbupaten Kubu Raya sudah berlangsung sejak satu dekade terakhir. Pada awalnya tempurung kelapa oleh masyarakat masih menjadi limbah atau bahan sisa dari pengolahan kopra. Pada proses pengolahan kopra tidak semua tempurung kelapa digunakan sebagai bahan bakar untuk pemasakannya. Sisa tempurung yang tidak terpakai ini hanya dibiarkan menumpuk memakan tempat.

Pada perkembangan selanjutnya, masyarakat mulai mengolah tempurung untuk dijadikan arang tempurung. Metode pengolahan tempurung kelapa untuk dijadikan arang pada walnya masih sederhana. Masyarakat membakar arang tersebut di dalam lubang tanah atau di atas hamparan tanah. Meskipun metode ini mudah dilakukan dan tidak membutuhkan banyak modal, namun kualitas hasilnya kurang bagus. Arang hasil pembakaran bercampur dengan tanah dan banyak yang hancur serta tingkat kandungan air yang masih tinggi. Pada tahap selanjutnya, mulai dikenalkan metode pembakaran arang yang lebih baik yaitu pembakaran dengan menggunakan tungku drum. Arang yang dihasilkan pada metode tungku drum memiliki kualitas yang lebih baik dari pada metode sebelumnya. Kandungan air lebih sedikit dan hargapun lebih tinggi.

Untuk memulai usaha arang tempurung, biaya yang diperlukan tidak terlalu besar. Pada metode tungku drum, modal awal yang dibutuhkan hanya drum bekas. Bahan baku tempurung diperoleh dari membeli ke pengrajin kopra atau milik sendiri hasil dari pengolahan kopra. Untuk 1000 butir buah kelapa menghasilkan arang tempurung sebanyak 40 kg, dengan asumsi tempurung juga dipakai untuk bahan bakar pengolahan kopra.

Berdasarkan perhitungan kelayakan usaha didapatkan nilai NPV Sebesar Rp. 658.290,- berarti keuntungan yang diperoleh sebesar Rp. 658.290,-. Dengan nilai B/C ratio sebesar 1,16 yang menunjukkan nilai lebih dari satu maka dapat dikatakan bahwa usaha yang dijalankan untung. Selain itu pula didapat nilai IRR sebesar 19 % yang berarti lebih dari tingkat suku bunga yang berlaku. Hal ini menunjukkan usaha yang dijalankan layak untuk dijalankan.

Penggunaan Tungku Hemat Energi (Anglo)

Penggunaan anglo saat ini merupakan salah satu solusi bagi masyarakat untuk mensiasati peningkatan harga minyak di tanah air, baik dengan menggunakan bahan baku arang tempurung kelapa atau bekas batang kayu atau dahan kopi hasil pembakaran sendiri atau dengan membeli dengan harga Rp 1000/kg. Dengan 100 gram arang tempurung kelapa, dapat memasak air sebanyak 2 liter hingga mendidih hanya dalam waktu 10-15 menit.

Selain penghematan bahan bakar fosil, kegiatn ini juga menguntungkan bagi pengrajin anglo di Desa Teluk Nibung, Kecamatan Batu Ampar, Kabupaten Kubu Raya, Kalimantan Barta. Berdasarkan perhitungan kelayakan usaha didapatkan nilai NPV Rp. 13.482.637 yang bernilai positif, hal ini menunjukkan bahwa usaha anglo memperoleh keuntungan sebesar Rp. 13.482.637,-. Selain itu diperoleh nilai Net B/C 1,33 yang berarti lebih dari satu menunjukkan usaha untung. Selain itu pula didapatkan nilai IRR sebesar 16,37% yang menunjukkan bahwa IRR lebih dari tingkat suku bunga yang berlaku.

2. Eco-Seminar Pengelolaan Mangrove dan Lahan Basah Berkelanjutan

Eco-seminar dilaksanakan pada tanggal 4-5 Maret 2008, bertempat di Hotel Kini, Pontianak, Kalimantan Barat.  Kegiatan ini merupakan pertanggungjawaban peserta pelatihan Pengelolaan Mangrove Matang di Malaysia dan pengelolaan lahan basah di Thailand yang disponsori oleh UNEP/GEF South China Sea.  Peserta yang mengikuti pelatihan Pengelolaan Mangrove Matang terdiri dari 3 orang yang berasal dari Bapedalda Propinsi Pontianak, Bapedalda Kabupaten Pontianak dan Dinas Kehutanan Kabupaten Pontianak.  Sedangkan pelatihan pengelolaan lahan basah berkelanjutan diikuti oleh 2 orang yang berasal dari Bapedalda Propinsi Pontianak dan Universitas Tanjungpura. 

Echo seminar dibuka oleh Kepala Bapedalda Propinsi Kalimantan Barat Ir. Tri Budiarto dan dilanjutkan dengan materi Strategic Action Programme For Mangrove In The South China Sea yang disampaikan oleh Direktur Eksekutif LPP Mangrove Ir. H. Nyoto Santoso MS. 
Materi lainnya adalah :

  1. Pengelolaan lahan basah Propinsi Kalimantan Barat dalam Konteks Pengembangan Wilayah dan Perkotaan oleh Mira Lubis
  2. Pengelolaan Mangrove Berkelanjutan oleh Odang Prasetyo, Marius Marcellus dan Eri Rizali
  3. Membangun Kebijakan Pengelolaan Lahan Basah Berkelanjutan oleh Gusti Z. Anshari
  4. Teknik Rehabilitasi Mangrove oleh Ahmad Faisal Siregar
  5. Upaya Penanaman Mangrove di Pantai Karimunting yang Rusak akibat Abrasi oleh Untung Hidayat

3. Penanaman Mangrove “Tanam dan Pelihara 10 juta Pohon”

Acara Penanaman Mangrove “Tanam dan Pelihara 10 Juta Pohon” dilaksanakan pada tanggal 1 Maret 2008 di Hutan Lindung Muara Angke yang dilaksanakan bersama Ibu-ibu Dharma Wanita Departemen Kelautan dan Perikanan RI yang dihadiri oleh Menteri Kelautan dan Perikanan Republik Indonesia beserta istri, para pejabat DKP RI serta didukung oleh ibu-ibu nelayan di Muara Angke. Selain dihadiri dari Instansi DKP, acara penanaman ini didukung oleh PT. Kapuk Naga Indah, pejabat dari Dinas Pertanian dan Kehutanan DKI Jakarta, serta Yayasan Mangrove Indonesia.

Syndicate content